Posts from the ‘Uncategorized’ Category

Refleksi seorang calon akuntan

Setiap orang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri, pengetahuan yang mendalam yang mampu dijadikan alat pengendali dalam setiap kesempatan berfikir dan bertindak. Rasionalisasi yang mucul dari alam pikiran yang paling mendalam yang kemudian menjadi penentu dan ciri khas orang yang bersangkutan.
Seorang akuntan pola pikirnya adalah pragmatis, dia menulis hitam diatas kertas berdasar fakta nominal empiris yang nyata-nyata ada buktinya, dia memiliki standar, kaku akan standarnya.
Identik dengan seorang jurnalis, dia memiliki pragmatisme pemikiran yang berdasar pada fakta empiris. Menyajikan bahasan yang memang sedang menggurita ditengah kenyataan obyek. Menampilkan logika yang bertujuan agar pembaca dari apa yang dia tulis mampu menangkap esensi berita yang terkandung didalamnya. Pada suatu titik, ketika kewajiban menyampaikan berita telah dipenuhi oleh seorang jurnalis, maka pada suatu kesempatan dia akan keluar dari pikiran pragmatismenya dan menyajikan keluh kesah pikirannya yang muncul atas dasar penyikapan terhadap fakta yang sebelumnya dia tulis. Dia mulai keluar dari garis normalnya, menerawang jauh kedalam untuk memberikan betapa tak sependapat pola pikirnya dengan fakta yang dia tampilkan. Hal ini akan mengarah pada kekritisan hakiki, yang muncul dari proses observasi, penulisan fakta, dan perenungan solusi.

Pada suatu waktu terjadi keraguan penentuan sikap, mencoba untuk tidak mentolerir beragam perbedaan yang ada. Seorang akuntan merasa muak dengan apa yang dia lakukan, dengan apa yang mengkungkung pola pikir hakikinya, dengan banyak aturan-aturan kaku gila yang selalu memhambat ruang imajinasinya. Dan ketika itu dia mulai berfikir menjadi seorang yang lepas, liberal dalam artian bebas, dan keluar dari paradigma-paradigma kaku yang sangat memuakkan dan yang sangat tidak mengenal sosial.
Adalah jawabannya seorang jurnalis, kembali ke dasar terdalam seorang jurnalis. Mengambil pola pikir tajam yang pada awalnya dimiliki oleh setiap orang bebas ketika dia lahir dan sebelum dia di rasuki dengan aturan-aturan bangsat. Mencoba memunculkan kembali kepekaan sosial, imajinasi terdalam, dan berusaha melantunkan lagi puisi-puisi jiwa yang sebelumnya selalu ditempa dalam ratusan kertas. Memiliki kembali jiwa independen, kritis, dan obyektif, sungguh merupakan kerinduan yang menggalaukan.

Jurnal Pertama

  1. Nilsson and olve, control system in multibusiness company: from performance management to strategic management:2001

(Fredrik Nilsson à Deloitte Consulting and Linkoping University, Sweden

Nils Olve à ConcursCepro and Linkoping University, Sweden)

Secara umum intisari dari jurnal ini adalah membahas mengenai peran dari system pengendalian yang diterapkan di perusahaan multibusiness. Cakupan dari jurnal ini membahas tiga model system pengendalian yang biasanya secara luas digunakan oleh perusahaan multibusiness yaitu (1) model-model untuk manajemen kinerja (models for performance management), (2) model-model untuk manajemen berdasarkan nilai (models for value based management), dan (3) model-model untuk manajemen strategic (models for strategic management).

Dalam pembukaan jurnal ini dijelaskan latar belakang pentingnya peran pengendalian dalam perusahaan multibusiness serta begitu besarnya tantangan dalam implementasinya agar bermanfaat dan berkontribusi bagi perusahaan.

Pada tahun 1965 Robert N. Anthony mengenalkan framework sistem pengendalian. Dibawah tema besar manajemen pengendalian, Anthony merekomendasikan untuk menggunakan model pengendalian berdasar keuangan, seperti ukuran ROI, RI dengan mengembangkan sistem dari proses perencanaan sampai dengan follow up. Dalam prakteknya, model ini sangat sulit digunakan untuk menciptakan sistem pengendalian yang bertujuan jangka panjang, banyak kritik dari berbagai kalangan yang mengatakan model ini hanya berorientasi pada performa keuangan jangka pendek.

Para peneliti dengan background ekonomi keuangan, setelah mengetahui model yang dikenalkan oleh Anthony diatas, bereaksi dengan mengelaborasikan model asli dengan meluncurkannya kembali sebagai model EVA (economic value added) dan Cash Flow Return on Investement  (CFROI).

Untuk mengatasi masalah-masalah agen, memang perlu dikembangkan model yang berbasis nilai (value based model) yang kemudian akan mengarah ke model pengendalian berbasis keuangan, namun karena banyaknya kritik atas ketidakefektifan model pengendalian yang berbasis keuangan tersebut maka perlu adanya model baru yang lebih tepat. Sehingga model seperti balance scorecard dan the performance pyramid menjawab pertanyaan tersebut dengan mengkombinasikan ukuran keuangan dan non keuangan.

Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menganalisis persamaan dan perbedaan tiga katagori tiga model pengendalian tersebut dan kemungkinan implikasi untuk perusahaan multibisnis.

Tujuan lebih spesifiknya adalah peranan system pengendalian pada perusahaan multibisnis dimana profit jangka panjang yang menjadi tujuan utamanya. Didalam perusahaan tersebut hubungan antara aktivitas, level organisasi yang berbeda, dan antar bisnis unit yang berbeda sangat complicated sehingga membutuhkan strategi, sistem pengendalian dan manajemen perusahaan.

Goold and Quinn (1990, p. 43)

The control system is the process which allows senior management to determine whether a business unit is performing satisfactorily, and which provides motivation for business unit management to see that it continues to do so. It therefore normally involves the agreement of objectives for the business between different levels of management; monitoring of performance against these objectives; and feedback on results achieved, together with incentives and sanctions for business management.

Proses pengendalian yang dijalankan oleh manajemen perusahaan tidak absolut, dalam artian proses pengendalian yang diimplementasikan perusahaan sangat bergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka atas kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan tingkat preferensi pelaku organisasi. Asumsi dasarnya adalah kinerja dan pencapaian perusahaan ditentukan oleh market dynamic dan internal opportunity yang ada. Menurut Anthony dan simon, sistem pengendalian seharusnya didesain dan digunakan untuk meningkatkan kemungkinan bahwa semua pelaku perusahaan dalam organisasi akan berkontribusi terhadap pencapaian dari tujuan organisasi.

System pengendalian di perusahaan multibisnis

Pada awalnya, jennergen dan olve berdiskusi terkait dengan metode penganggaran   (budgeting method) dimana metode ini merupakan katagori model manajemen kinerja yang sangat kuat focus pada orientasi keuangan pada proses perencanaan dan follow up.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan sistem pengendalian adalah keberhasilannya dalam menghubungkan kemampuan bisnis unit dengan strategi yang ditentukan perusahaan.

  1. Goal setting and business planning

Tujuan besar perusahaan adalah tentunya untuk memaksimalkan nilai shareholder dan memenuhi kepentingan konsumen, supplier, dan karyawan. Setelah goals dapat dipahami selanjutnya merubahnya kedalam strategi-strategi perusahaan, dimana strategi perusahaan adalah focus dari tujuan dan perencanaan yang sebelumnya telah dibuat.

  1. Communication and linking

Bagaimanapun juga sebagai konsekuensi dari strategi yang telah dibuat, harus ada komunikasi dan link antara perusahaan dan bisnis unit dengan tujuan untuk mencapai strategi tersebut. Serta bentuk komitmen untuk mencapai strategi mempunyai konsekuensi terhadap berlakunya insentif dan sanksi. Pemahaman atas tujuan, strategi, dan operasi antara perusahaan dan bisnis unit adalah sesuatu yang mutlak untuk dipenuhi.

  1. Feedback and learning

Sebagai lanjutan dari hubungan antara manajemen perusahaan dengan manajemen bisnis unit adalah komunikasi yang mengarah pada ketepatan kerja, tukar informasi yang saling melengkapi untuk memudahkan diagnosa permasalahan yang muncul dalam perjalanan pemenuhan tujuan. Dengan melakukan komunikasi, interaksi akan membantu mengidentifikasi ancaman dan kesempatan yang muncul.

  1. Supporting infrastructure

Maksud dari dukungan infrastructure ini adalah bahwa perlu ada dukungan, baik orang maupun teknik untuk membantu dalam menformulasi dan mengimplementasikan strategi, seperti rutinitas, peralatan, dan orang-orang yang dibutuhkan untuk memungkinkan sistem pengendalian terwujud serta menyediakan dukungan utama pada goal setting and business planning, communication and linking dan juga feedback and learning. Serta kemudian kita ketahui bahwa model berbeda memerlukan dukungan infrastructure yang berbeda.

Dari manajemen kinerja ke manajemen strategic

  1. Models for performance management

Model ini digambarkan dalam textbook dimana tujuan perusahaan dicerminkan dari orientasi keuangan dan optimisasi. Tergantung skop pertanggungjawaban unit, kita tahun unit dapat diidentifikasi sebagai cost center, profit center, dan investment center. Tujuan perusahaan dapat di uraikan kedalah tujuan perunit SBU perusahaan. Tujuan dari subunit perusahaan dapat digambarkan dengan peminimalan biaya dan memaksimalkan laba.

Annual budgeting process merupakan tahap yang paling penting dalam performance management. Dalam praktiknya, ukuran non keuangan juga sangat signifincant dalam memperkirakan sukses dan tidaknya.  Model yang difokuskan adalah ROI and RI. ROI = laba perusahaan/total aset, RI = laba yang dilaporkan – capital charge, capital charge = cost of debt financing.

Banyak perusahaan menggunakan ROI sebagai ukuran, selain dapat dipahami dan data dapat dibandingkan juga biasanya mudah dihubungkan dengan sistem reward.

  1. Models for value-based management

Fokus pada shareholder, berbeda dengan performance management yang fokus untuk melindungi peminjam. Dua model dari value based management adalah CFROI and EVA.

CFROI berdasar pada data cash flow. Dimana CFROI melihat nilai perusahaan berdasarkan expected cash flow kemudian dibandingkan dengan cost of capital. Dalam praktiknya CFROI menjadi penghitungan IRR.

EVA secara esensial adalah RI yang memasukkan biaya R&D yang harus diperhatikan sebagai investasi modal.

  1. Models for strategic management

Model ini menempatkan strategi menjadi leading atas setiap agenda organisasi dengan menggambarkan dan mengkomunikasikan strategi kedalam setiap level organisasi. Model ini berbeda dengan dua model sebelumnya, karena model ini menggambungkan antara ukuran keuangan dan ukuran non keuangan. Karena pada bagian dari model ini menjelaskan bahwa informasi non moneter ternyata mampu menjelaskan deviasi terhadap budget. Dua model ini antara lain performance pyramid dan the balanced scorecard.

Performance pyramid dikembangkan oleh McNair, Lynch and Cross dengan cara mentranslate visi dan strategy ke level – level yang lebih rendah diperusahaan.

tergelitik “konsep pelayanan publik”

kompas 11/6/09, kolom opini.. ada judul mengenai “politik pelayanan publik”.. ditulis Robert Endi Jaweng.

intinya ada suatu preferensi ideologis yang dianut setiap rezim yang berkuasa dalam hal menyediakan model pelayanan publik terkait dengan seharusnya peran negara dan posisi warga negaranya. bagai yang menganut model affirmative state / welfare state, pelayanan publik merupakan hak dasar warga dan sudah menjadi tanggungjawab suatu negara untuk menyediakan pelayanan yang berorientasi pada kesejahteraan dan kemakmuran warga negaranya.
sedangkan yang bermazab minimal state atau yang lebih kerennya neolib state/neoinstitusionalis state, pilihan moral menjalankan pelayanan publik ibarat penjaga malam, memastikan bahwa masyarakat teratur dan taat hukum. soal pemenuhan pelayanan publik, biarlah masayarakat memenuhinya sendiri.. ibarat pasar.. pasti adalah mekanisme minta dan tawar.. pasti ada juga tangan setan (invisible hand) yang menyediakan dan pastinya membawa ke titik imbang…
nah, ini yang mungkin malu dijawab oleh miranda, dan mbak Sri di rapat dengar DPR beberapa waktu lalu (mau ikut-ikutan nyebut mbak sri kayak bang aco’)

nah, bila di analisis dibidang sektor publik, pemenuhan pelayanan publik di Indonesia yang berkait dengan konsep desentralisasi yang begitu dibanggakan.. alih-alih untuk memangkas biaya dan menumbuhkan konsep efisien… tidak semua pemda ‘manut’ dalam menjalankan kebijakan pelayanan publik. maksudnya, Indonesia benar mengambil jalan tengah, seperti demokrasi pancasila yang dianutnya.. bukan terpimpim dan bukan liberal, tidak semua pemda seragam dalam menjalankan model pelayanan publik.. banyak diantaranya yang menjalankan konsep welfare state tapi tidak sedikit juga yang menjalankan konsep minimal state. cirinya sangat gampang untuk membedakanya… bila arah kebijakan pemda peka terhadap kebutuhan kredit mikro, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang memadai pasti konsep pertama yang dianut, sebaliknya bila arahnya mulai ke pemfasilitasan investasi, deregulasi,reformasi perizinan.. pasti konsep no dua yang diambil..

jadi, sangat sangat salah klu kita mengeneralisasi satu konsep untuk keseluruhan wilayah (satu negara), karena riilnya yang terjadi seperti itu..

klu kita ingin lihat preferensi yang lain yang membuktikan konsep ideologis itu.. kita buka lap keu masing-masing pemda.. lihat seberapa besar anggaran mereka berfokus.. lihat seberapa besar belanja mereka terpusat..

itu klu hanya dilihat dari modelnya… klu dilihat dari designnya… pemenuhan kebijakan publik juga ada yang berorientasi pada teknokrasi dan politik…
tentunya pasti sudah banyak yang bisa menebak.. design kebijakan publik yang dianut secara nasional negara yang kita cintai ini…

huh… hanya mengabarkan, selanjutnya terserah anda..

from cafe salemba

Fish on Neoliberalism in the University
Posted: 08 Mar 2009 11:46 PM PDT
Stanley Fish opines in the NYT on why neoliberalism is hated:
The objection (which I am reporting, not making) is that in the passage from a state in which actions are guided by an overarching notion of the public good to a state in which individual entrepreneurs “freely” pursue their private goods, values like morality, justice, fairness, empathy, nobility and love are either abandoned or redefined in market terms.

Short-term transactions-for-profit replace long-term planning designed to produce a more just and equitable society. Everyone is always running around doing and acquiring things, but the things done and acquired provide only momentary and empty pleasures (shopping, trophy houses, designer clothing and jewelry), which in the end amount to nothing. Neoliberalism, David Harvey explains, delivers a “world of pseudo-satisfactions that is superficially exciting but hollow at its core.” (”A Brief History of Neoliberalism.”)
This logic, according to the critics of neoliberalism, somehow is embedded into universities and narrows their function as merely instrumental, commercial, and practical. And because the universities are privatized (under neoliberalism agenda, they accuse), their faculty members becomes more and more in favor to professionalism over social responsibility and taking position in controversial issues.

Fish makes his own defense on its effect on academic freedom issue and you better read his excellent essay yourself.

My two cents is, in Indonesia, it’s the other way around. The state universities are underfunded, partly because they can not freely adjust tuition fee to its actual cost. As a result, most faculty members, who are underpaid, could not develop their professionalism. Facing this problem, they end up taking too much social responsibility (in non academic-related jobs) and making up sloppy position in controversial issue (and funny commentaries) without, alas, adequate scientific professionalism.

I shall add that the university’s social responsibility is to provide high quality higher education and academic research, which, in case you don’t realize it, is quite costly. This higher education itself, if done properly and professionally, would have huge social impact.

OK, I know what’s in your mind. Some of your baristas here are perhaps guilty as charged, too.

That we admit we blog too much.

“You And I Both”

Was it you who spoke the words that things would happen but not to me
Oh things are gonna happen naturally
Oh taking your advice I’m looking on the bright side
And balancing the whole thing
But often times those words get tangled up in lines
And the bright lights turn to night
Until the dawn it brings
Another day to sing about the magic that was you and me

Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just read of
Others only read of the love, the love that I love.

See I’m all about them words
Over numbers, unencumbered numbered words
Hundreds of pages, pages, pages for words
More words then I had ever heard and I feel so alive

Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just read of
And if you could see me now,
Oh love, no
You and I, you and I
Not so little you and I anymore, mmm…
And with this silence brings a moral story
More importantly evolving is the glory of a boy

Cause you and I both loved
What you and I spoke of
And others just read of
And if you could see me now
Well I’m almost finally out of
I’m finally out of
Finally deedeedeedee
Well I’m almost finally, finally
Well I’m free, oh, I’m free

And it’s okay if you have to go away
Oh just remember the telephone works both ways
And if I never ever hear them ring
If nothing else I’ll think the bells inside
Have finally found you someone else and that’s okay
Cause I’ll remember everything you sang

Cause you and I both loved what you and I spoke of
and others just read of and if you could see now
well I’m almost finally out of.
I’m finally out of, finally, deedeeededede
well I’m almost finally, finally, out of words.

bingung

gile… gw bingung make wordpress nie…. duh

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!