Setiap orang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri, pengetahuan yang mendalam yang mampu dijadikan alat pengendali dalam setiap kesempatan berfikir dan bertindak. Rasionalisasi yang mucul dari alam pikiran yang paling mendalam yang kemudian menjadi penentu dan ciri khas orang yang bersangkutan.
Seorang akuntan pola pikirnya adalah pragmatis, dia menulis hitam diatas kertas berdasar fakta nominal empiris yang nyata-nyata ada buktinya, dia memiliki standar, kaku akan standarnya.
Identik dengan seorang jurnalis, dia memiliki pragmatisme pemikiran yang berdasar pada fakta empiris. Menyajikan bahasan yang memang sedang menggurita ditengah kenyataan obyek. Menampilkan logika yang bertujuan agar pembaca dari apa yang dia tulis mampu menangkap esensi berita yang terkandung didalamnya. Pada suatu titik, ketika kewajiban menyampaikan berita telah dipenuhi oleh seorang jurnalis, maka pada suatu kesempatan dia akan keluar dari pikiran pragmatismenya dan menyajikan keluh kesah pikirannya yang muncul atas dasar penyikapan terhadap fakta yang sebelumnya dia tulis. Dia mulai keluar dari garis normalnya, menerawang jauh kedalam untuk memberikan betapa tak sependapat pola pikirnya dengan fakta yang dia tampilkan. Hal ini akan mengarah pada kekritisan hakiki, yang muncul dari proses observasi, penulisan fakta, dan perenungan solusi.
Pada suatu waktu terjadi keraguan penentuan sikap, mencoba untuk tidak mentolerir beragam perbedaan yang ada. Seorang akuntan merasa muak dengan apa yang dia lakukan, dengan apa yang mengkungkung pola pikir hakikinya, dengan banyak aturan-aturan kaku gila yang selalu memhambat ruang imajinasinya. Dan ketika itu dia mulai berfikir menjadi seorang yang lepas, liberal dalam artian bebas, dan keluar dari paradigma-paradigma kaku yang sangat memuakkan dan yang sangat tidak mengenal sosial.
Adalah jawabannya seorang jurnalis, kembali ke dasar terdalam seorang jurnalis. Mengambil pola pikir tajam yang pada awalnya dimiliki oleh setiap orang bebas ketika dia lahir dan sebelum dia di rasuki dengan aturan-aturan bangsat. Mencoba memunculkan kembali kepekaan sosial, imajinasi terdalam, dan berusaha melantunkan lagi puisi-puisi jiwa yang sebelumnya selalu ditempa dalam ratusan kertas. Memiliki kembali jiwa independen, kritis, dan obyektif, sungguh merupakan kerinduan yang menggalaukan.