- Nilsson and olve, control system in multibusiness company: from performance management to strategic management:2001
(Fredrik Nilsson à Deloitte Consulting and Linkoping University, Sweden
Nils Olve à ConcursCepro and Linkoping University, Sweden)
Secara umum intisari dari jurnal ini adalah membahas mengenai peran dari system pengendalian yang diterapkan di perusahaan multibusiness. Cakupan dari jurnal ini membahas tiga model system pengendalian yang biasanya secara luas digunakan oleh perusahaan multibusiness yaitu (1) model-model untuk manajemen kinerja (models for performance management), (2) model-model untuk manajemen berdasarkan nilai (models for value based management), dan (3) model-model untuk manajemen strategic (models for strategic management).
Dalam pembukaan jurnal ini dijelaskan latar belakang pentingnya peran pengendalian dalam perusahaan multibusiness serta begitu besarnya tantangan dalam implementasinya agar bermanfaat dan berkontribusi bagi perusahaan.
Pada tahun 1965 Robert N. Anthony mengenalkan framework sistem pengendalian. Dibawah tema besar manajemen pengendalian, Anthony merekomendasikan untuk menggunakan model pengendalian berdasar keuangan, seperti ukuran ROI, RI dengan mengembangkan sistem dari proses perencanaan sampai dengan follow up. Dalam prakteknya, model ini sangat sulit digunakan untuk menciptakan sistem pengendalian yang bertujuan jangka panjang, banyak kritik dari berbagai kalangan yang mengatakan model ini hanya berorientasi pada performa keuangan jangka pendek.
Para peneliti dengan background ekonomi keuangan, setelah mengetahui model yang dikenalkan oleh Anthony diatas, bereaksi dengan mengelaborasikan model asli dengan meluncurkannya kembali sebagai model EVA (economic value added) dan Cash Flow Return on Investement (CFROI).
Untuk mengatasi masalah-masalah agen, memang perlu dikembangkan model yang berbasis nilai (value based model) yang kemudian akan mengarah ke model pengendalian berbasis keuangan, namun karena banyaknya kritik atas ketidakefektifan model pengendalian yang berbasis keuangan tersebut maka perlu adanya model baru yang lebih tepat. Sehingga model seperti balance scorecard dan the performance pyramid menjawab pertanyaan tersebut dengan mengkombinasikan ukuran keuangan dan non keuangan.
Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menganalisis persamaan dan perbedaan tiga katagori tiga model pengendalian tersebut dan kemungkinan implikasi untuk perusahaan multibisnis.
Tujuan lebih spesifiknya adalah peranan system pengendalian pada perusahaan multibisnis dimana profit jangka panjang yang menjadi tujuan utamanya. Didalam perusahaan tersebut hubungan antara aktivitas, level organisasi yang berbeda, dan antar bisnis unit yang berbeda sangat complicated sehingga membutuhkan strategi, sistem pengendalian dan manajemen perusahaan.
Goold and Quinn (1990, p. 43)
The control system is the process which allows senior management to determine whether a business unit is performing satisfactorily, and which provides motivation for business unit management to see that it continues to do so. It therefore normally involves the agreement of objectives for the business between different levels of management; monitoring of performance against these objectives; and feedback on results achieved, together with incentives and sanctions for business management.
Proses pengendalian yang dijalankan oleh manajemen perusahaan tidak absolut, dalam artian proses pengendalian yang diimplementasikan perusahaan sangat bergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka atas kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan tingkat preferensi pelaku organisasi. Asumsi dasarnya adalah kinerja dan pencapaian perusahaan ditentukan oleh market dynamic dan internal opportunity yang ada. Menurut Anthony dan simon, sistem pengendalian seharusnya didesain dan digunakan untuk meningkatkan kemungkinan bahwa semua pelaku perusahaan dalam organisasi akan berkontribusi terhadap pencapaian dari tujuan organisasi.
System pengendalian di perusahaan multibisnis
Pada awalnya, jennergen dan olve berdiskusi terkait dengan metode penganggaran (budgeting method) dimana metode ini merupakan katagori model manajemen kinerja yang sangat kuat focus pada orientasi keuangan pada proses perencanaan dan follow up.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan sistem pengendalian adalah keberhasilannya dalam menghubungkan kemampuan bisnis unit dengan strategi yang ditentukan perusahaan.
- Goal setting and business planning
Tujuan besar perusahaan adalah tentunya untuk memaksimalkan nilai shareholder dan memenuhi kepentingan konsumen, supplier, dan karyawan. Setelah goals dapat dipahami selanjutnya merubahnya kedalam strategi-strategi perusahaan, dimana strategi perusahaan adalah focus dari tujuan dan perencanaan yang sebelumnya telah dibuat.
- Communication and linking
Bagaimanapun juga sebagai konsekuensi dari strategi yang telah dibuat, harus ada komunikasi dan link antara perusahaan dan bisnis unit dengan tujuan untuk mencapai strategi tersebut. Serta bentuk komitmen untuk mencapai strategi mempunyai konsekuensi terhadap berlakunya insentif dan sanksi. Pemahaman atas tujuan, strategi, dan operasi antara perusahaan dan bisnis unit adalah sesuatu yang mutlak untuk dipenuhi.
- Feedback and learning
Sebagai lanjutan dari hubungan antara manajemen perusahaan dengan manajemen bisnis unit adalah komunikasi yang mengarah pada ketepatan kerja, tukar informasi yang saling melengkapi untuk memudahkan diagnosa permasalahan yang muncul dalam perjalanan pemenuhan tujuan. Dengan melakukan komunikasi, interaksi akan membantu mengidentifikasi ancaman dan kesempatan yang muncul.
- Supporting infrastructure
Maksud dari dukungan infrastructure ini adalah bahwa perlu ada dukungan, baik orang maupun teknik untuk membantu dalam menformulasi dan mengimplementasikan strategi, seperti rutinitas, peralatan, dan orang-orang yang dibutuhkan untuk memungkinkan sistem pengendalian terwujud serta menyediakan dukungan utama pada goal setting and business planning, communication and linking dan juga feedback and learning. Serta kemudian kita ketahui bahwa model berbeda memerlukan dukungan infrastructure yang berbeda.
Dari manajemen kinerja ke manajemen strategic
- Models for performance management
Model ini digambarkan dalam textbook dimana tujuan perusahaan dicerminkan dari orientasi keuangan dan optimisasi. Tergantung skop pertanggungjawaban unit, kita tahun unit dapat diidentifikasi sebagai cost center, profit center, dan investment center. Tujuan perusahaan dapat di uraikan kedalah tujuan perunit SBU perusahaan. Tujuan dari subunit perusahaan dapat digambarkan dengan peminimalan biaya dan memaksimalkan laba.
Annual budgeting process merupakan tahap yang paling penting dalam performance management. Dalam praktiknya, ukuran non keuangan juga sangat signifincant dalam memperkirakan sukses dan tidaknya. Model yang difokuskan adalah ROI and RI. ROI = laba perusahaan/total aset, RI = laba yang dilaporkan – capital charge, capital charge = cost of debt financing.
Banyak perusahaan menggunakan ROI sebagai ukuran, selain dapat dipahami dan data dapat dibandingkan juga biasanya mudah dihubungkan dengan sistem reward.
- Models for value-based management
Fokus pada shareholder, berbeda dengan performance management yang fokus untuk melindungi peminjam. Dua model dari value based management adalah CFROI and EVA.
CFROI berdasar pada data cash flow. Dimana CFROI melihat nilai perusahaan berdasarkan expected cash flow kemudian dibandingkan dengan cost of capital. Dalam praktiknya CFROI menjadi penghitungan IRR.
EVA secara esensial adalah RI yang memasukkan biaya R&D yang harus diperhatikan sebagai investasi modal.
- Models for strategic management
Model ini menempatkan strategi menjadi leading atas setiap agenda organisasi dengan menggambarkan dan mengkomunikasikan strategi kedalam setiap level organisasi. Model ini berbeda dengan dua model sebelumnya, karena model ini menggambungkan antara ukuran keuangan dan ukuran non keuangan. Karena pada bagian dari model ini menjelaskan bahwa informasi non moneter ternyata mampu menjelaskan deviasi terhadap budget. Dua model ini antara lain performance pyramid dan the balanced scorecard.
Performance pyramid dikembangkan oleh McNair, Lynch and Cross dengan cara mentranslate visi dan strategy ke level – level yang lebih rendah diperusahaan.